Kecurigaan keberadaan NAMRU-2 (The US Naval Medical Reseach
Unit Two) atau “Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut Amerika” di
Indonesia sebagai alat kepentingan intelijen AS guna melanggengkan
bisnis kesehatan AS di Indonesia, dibenarkan pakar intelijen Indonesia
yang telah 30 tahun bekerja di bidang intelijen.
Rekam jejak karir mantan Menteri Kesehatan periode 2009–2014, Endang
Rahayu Sedyaningsih dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II banyak
menuai kontroversi. Endang yang dikenal dekat dengan Amerika Serikat (AS), menggantikan Siti
Fadillah Supari atas permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
pada 21 Oktober 2009. Sebelum menjadi menteri, nama Endang jarang disebut-sebut media. Lulusan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979 yang memperoleh
gelar Master on Public Health dan Doktor Kesehatan Masyarakat di Harvard University, AS tahun 1992 dan 1997 ini, mengawali karirnya sebagai Kepala Puskesmas di Waipare NTT.
Selama menjadi pegawai Depkes, Endang dikenal dekat dengan AS melalui NAMRU Unit 2 (The US Naval Medical Reseach Unit Two)
atau “Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut Amerika”. Atas kedekatannya
itulah, banyak pihak yang menudingnya sebagai antek AS di Indonesia. Terkait kedekatan Endang dengan Namru, dibenarkan Siti Fadillah. “Dia
(Endang) adalah mantan pegawai (Kepala laboratorium) Namru. Dia memang
sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,”
kata mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, pada Rabu 21 Oktober
2009.
Proyek ini berhenti beroperasi sejak 16 Oktober 2009, karena menuai
banyak demonstrasi kecaman. Sebagai mantan pegawai Namru dan pegawai
Depkes, Endang diduga keras mempertahankan keberadaan Namru-2.
Hal itulah yang membuat mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari
berang dan menuding Endang menjual virus flu burung ke luar negeri tanpa
seizinnya!.
Endang dinilai lebih mementingkan AS dengan bisnis kesehatannya
ketimbang Indonesia. Akhirnya Siti menskors dan melakukan mutasi kepada
Endang menjadi staf biasa. Namun, dengan entengnya, saat itu Endang menjawab hanya persoalan suka tidak suka seorang pimpinan terhadap bawahan.
Ketika Endang dipilih menjadi menkes untuk menggantikannya, Menkes lama
Siti Fadilah Supari menyampaikan keterkejutannya. Ia tersentak karena
Endang dipilih presiden SBY sebagai Menkes baru.
“Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara
dengan semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah. Sejak mencuatnya
kontroversi tentang keberadaan Namru-2, banyak informasi yang masuk
antara lain:
- Namru-2 habis masa kontraknya sejak tahun 2000.
- Staff Namru diberi kekebalan diplomatik (dibebaskan dari pajak dan disediakan tempat tinggal oleh pemerintah Indonesia)
- Menkes Fadilah pernah dipersulit untuk masuk Namru-2 padahal
sejatinya Namru-2 didirikan diatas lahan milik depkes sendiri di Jl.
Percetakan Negara no.29 Rawasari, Jakarta Pusat
- Peneliti Namru-2 bebas bergerak ke seluruh pelosok negeri untuk mengambil sampel virus dari darah orang Indonesia.
- Namru-2 dikatakan bergerak dibidang kesehatan akan tetapi
personilnya dari US Navy. So that means: tentara Amerika hidup bebas dan
berkeliaran dinegara ini dengan kedok penelitian kesehatan.
- Keberadaan Namru-2 selama 38 tahun tidak transparan. Seperti
dilaporkan banyak pihak, lembaga riset medis angkatan laut AS tersebut
tidak pernah melaporkan hasil penelitian kesehatan selama ini di
Indonesia (Media Indonesia, 22/4/2008 )
- Namru2 ditengarai mengambil sampel virus dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi senjata biologi.
- Namru-2 adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti
penyakit menular demi kepentingan bersama AS, Departemen Kesehatan RI,
dan komunitas kesehatan umum internasional.
Namru-2 didirikan pada 1970 atas permintaan Departemen Kesehatan RI.
Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit
akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan
diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian
Namru-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi
secara alamiah.
Kecurigaan Namru-2 sebagai alat kepentingan intelijen AS guna
melanggengkan bisnis kesehatan AS di Indonesia itu dibenarkan pakar
intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo. Hal itu diketahuinya setelah 30
tahun bekerja di bidang intelijen, serta pernah menjabat sebagai Kepala
Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.
“Kalau saya pribadi yakin itu ada motif intelijen dari Amerika. Saya kan
kerja di bidang intelijen ini sejak Letnan hingga bintang dua
(Laksamana Muda). Lebih dari 30 tahun,” ungkap Subardo di sela-sela
Seminar Hari Kesadaran Keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM,
Yogyakarta, pada Jumat 25 April 2008.
Ungkapan Subardo, diperkuat dengan hasil karya ilmiah Endang yang
sejalan dengan misi Namru-2 yang diduga digunakan sebagai bahan
penelitian intelijen AS guna mendapatkan vaksin atau obat penawar virus
flu burung di Indonesia.
Berikut beberapa karya ilmiah Endang tentang kesehatan:
1. Pengembangan Jaringan Virologi dan Epidemiologi Influenza di Indonesia (2007),
2. Karakteristik kasus-kasus flu burung di Indonesia (Juli 2005-Mei 2006), dan
3. Kajian penelitian sosial dan perilaku yang berkaitan dengan Infeksi Menular Seksual, HIV/AIDS di Indonesia (1997-2003).
Seperti kata pepatah “tak ada gading yang tak retak“, yang cocok menggambarkan sosok mantan Menteri Kesehatan periode 2009–2014, Endang Rahayu Sedyaningsih.
Mantan Kepala Laboratorium di Namru (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut ini, diduga bekerja untuk intelijen Amerika Serikat (AS).
Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta
Sebagai jawaban atas dipilihnya Endang menjadi menkes menggantikan Siti Fadilah, maka pada 2007, Siti menulis buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung Konspirasi Amerika Serikat dan Organisasi WHO”,
dalam mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan virus flu
burung. Buku ini menuai protes dari petinggi WHO dan Amerika Serikat.
Akibat adanya buku Siti tersebut, membuat pemerintah AS dikabarkan
menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank
jika Pemerintah RI bersedia menarik buku Siti Fadilah Supari setebal 182
halaman itu.
Bahkan ketika itu, salah satu nara sumber bernama Munarman, pernah
menyatakan NAMRU-2 sebagai lab intelijen berkedok medis sehingga layak
ditutup, Munarman juga menyebut Jubir Presiden Dino Patti Djalal sebagai
agen AS.
“Dino Patti Djalal patut dipertanyakan karena dia mendukung kerjasama
laboratorium Indonesia-AS. Seorang jubir presiden menjadi intelijen
asing,” ujar Munarman dalam jumpa pers di kantor Medical Emergency
Rescue Committee (Mer-C), Jl Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Rabu
(23/4/2008).
Hal tersebut dapat membahayakan negara, karena presiden yang tak tau
apa-apa akan ikut menjadi korbannya. Jika presiden menjadi korban
kepentingan AS, maka seluruh rakyat akan ikut mejadi korban AS. Tentang
keberadaan agen CIA di Indonesia bukanlah cerita dongeng dan isapan
jempol. Selama ini memang sudah disinyalir dan terbukti banyaknya anak bangsa
yang mau menjadi antek-antek AS hanya karena uang. Mereka lebih
mementingkan uang daripada negara, itu sebabnya mereka dapat dibeli,
terbukti mental dan harga diri mereka memang murah.
Munarman berpendapat, Presiden SBY tentunya juga telah tahu NAMRU-2 melakukan kegiatan intelijen. “Tapi dia (Presiden – pen) lagi bingung. Menurut saya sih nggak usah
bingung, rakyat pasti mendukung NAMRU untuk ditutup,” ujar eks Ketua
YLBHI ini.
Menanggapi isu tersebut kala itu, Endang bersikap diplomatis. Dia
mengatakan akan tetap bekerjasama dengan Amerika untuk bidang kesehatan.
“Tapi bukan dengan Namru. Kami akan lihat nanti bentuk apa yang
sesuai,” kata Endang dalam jumpa pers, Kamis 22 Oktober 2009.
Namru- 2 kini pun berganti nama menjadi Indonesia United States Center for Medical Research (UIUC).
Ia juga membantah informasi yang mengatakan bahwa dia menjual specimen
virus flu burung ke luar negeri. “Apakah saya menjual specimen, tidak
benar. Saya tidak menjual specimen,” kata Endang.
Beberapa kalangan tetap masih menduga, ditunjuknya Endang sebagai
menteri karena kedekatannya dengan Namru (The US Naval Medical Reseach
Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut Amerika Serikat.
Diketahui, Endang pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium di Namru
dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, bidang penanganan
penyakit menular, pada Juli-Desember 2001.
Dugaan itu diperkuat dengan ditolaknya calon menteri yang sebelumnya
disebut-sebut sebagai bakal pengganti Siti, yakni Nila Anfasha Juwita
Moeloek dengan alasan tidak memiliki kemampuan menghadapi tekanan
pekerjaan yang berat. Padahal, saat berkarir di Departemen Kesehatan
(Depkes), Endang memiliki catatan buruk. Bahkan, Endang tanpa melalui tes kesehatan saat proses seleksi menteri
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Setelah setahun menjabat, Endang
divonis mengidap kanker oleh RSPAD Gatot Subroto. Masyarakat melihat,
banyak terjadi kejanggalan. Hal ini inilah yang menjadi polemik.
Namun, terpilih dan tidaknya seorang calon menteri, tetap tergantung
SBY. Semua, dikembalikan kepada dia yang memutuskan orang tersebut layak
atau tidak. Karena tes yang dijalankan oleh seorang calon menteri, hanya bagian dari
penilaian awal dan bukan akhir. Banyak kalangan menduga, sikap SBY erat
hubungannya dengan intervensi AS dan politik yang dianutnya.
Seperti diketahui, Endang meninggal dunia pada hari Rabu (2/5/2012) lalu
sekira pukul 11.41 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Jakarta, setelah berjuang melawan penyakit kanker yang dideritanya sejak
1,5 tahun lamanya. Endang meninggal dalam usia 57 tahun.
Bahkan penyakit kanker paru-paru yang diderita Endang juga sempat
membuat kontroversi. Penyakit kanker yang tiba-tiba muncul hanya dalam
tempo 1,5 tahun saja sudah dapat merengut nyawanya. Apalagi ia bukan
perokok dan riwayat kesehatannya juga tidak menjelaskan adanya sel
kanker di dalam tubuh Endang.
Mengingat Endang adalah menkes, maka medical check-up selalu
dilakukan terhadap dirinya secara rutin sebagai menteri kesehatan. Walau
ada gejala sel kanker-pun, namun jika selalu melalukan medical check-up secara rutin maka gejala kanker akan terdeteksi pada tahap awalnya dan dapat disembuhkan.
Dalam beberapa kali medical check-up, Endang memang sempat
melakukannya di AS. Maka timbul pertanyaan, apakah mungkin ia sempat
diberikan obat, minuman atau suntikan yang dapat menyebabkan kanker
paru-paru?
Misalkan jawabannya iya, maka timbul pertanyaan selanjutnya, mengapa
kanker paru-paru tersebut tak dapat terdeteksi sejak awal? Ataukah
memang sel kanker jenis ini tak dapat terdeteksi dan bereaksi sangat
cepat?
Kontroversi selanjutnya adalah terhadap mantan menkes sebelum Endang,
yaitu Siti Fadilah yang kini disinyalir melakukan tindak korupsi. Timbul
pertanyaan untuknya, apakah korupsi yang dituduhkan terhadap Siti
adalah juga hasil rekayasa antek-antek AS yang ber-KTP dan
berkewarganegaraan Indonesia serta juga berada dan tinggal di Indonesia?
Mengingat Siti adalah menkes yang paling gencar melakukan kritik dan
anti kebijaksanaan AS dan Badan Kesehatan Dunia WHO. Ditambah dengan
penerbitan bukunya tentang bukti keterlibatan AS dalam dampak virus flu
burung di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya yang tentu saja sangat
membuat AS gerah dan berusaha untuk mengagalkan beredarnya buku ini.
Kembali kepada Endang, namun di luar kontroversi yang ada dalam diri
mantan menkes Endang (almarhumah), banyak juga jasa yang sudah
diberikannya selama hidup. Salah satunya adalah ikut menyukseskan
program Badan Pengamanan Jaringan Sosial (BPJS). Sayang, program
kerakyatan itu belum diselesaikannya.
Kini, sebagian kebenaran kontroversi dan konspirasi tersebut diatas,
dibawa pergi bersama kepergian Menkes Endang Rahayu, apakah Namru-2
benar seperti yang dituduhkan dan keterlibantan Menkes Endang di
dalamnya? Apakah kanker paru-paru yang dideritanya adalah rekayasa?
Apakah kasus korupsi yang menjerat mantan menkes Siti Fadilah juga
direkayasa?
Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas pastilah ada diluar
sana, namun mereka yang mengetahuinya akan tetap tak mau bicara, mereka
tetap diam dan menyembunyikan semuanya.
Ya, jika seorang pengecut tak berani mengungkapkan kebenaran maka
berarti ia ada diseberangnya, pembela ketidak benaran… dan tetaplah kau
bersembunyi didalam sana. “The thuth is out there, just keep inside”. Maka… biarlah sejarah dan waktu yang akan mengungkapkannya, itupun jika mungkin. (berbagai sumber/icc.wp.com).
artikel diambil dari http://indocropcircles.wordpress.com/2012/05/04/politik-endang-rahayu-namru-bisnis-amerika/