13/09/12

Pengaruh Film Innocence of Muslims

Pengaruh film memang luar biasa. Emosi manusia begitu mudah tersulut gara-gara film. Apa yang disajikan sutradara melalui rangkaian adegan dalam film mampu menjadi katalisator yang menghipnotis manusia untuk bereaksi dengan timbulnya perasaan gelisah, frustasi, marah, atau bahkan beringas. 

Maka tak heran tidak sedikit kekerasan terjadi akibat pengaruh film. Penembakan yang terjadi di Amerika setelah pemutaran perdana sekuel Batman beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu bukti dahsyatnya pengaruh film. Begitu juga dengan peristiwa kekerasan di Libya yang menewaskan duta besar AS yang diduga terjadi akibat pengaruh Innocence of Muslim. Sebuah film kontroversial yang menjadi perbincangan manusia sejagat belakangan ini. 

Lantas ada apa dengan Innocence of Muslim ini. Apakah karena ceritanya yang bagus. Atau kah karena pemerannya yang ganteng melebihi Bratt Pit. Jika karena alur cerita dan aktornya yang memikat tentu tidak akan memantik protes yang berujung pada kekerasan. Film dengan kategori demikian pasti menjadi box office yang menuai pujian dan dollar melimpah. Jadi pasti bukan karena hal itu. Ini pasti karena ada sesuatu dalam film itu. 

Lho, ternyata lakonnya seorang tokoh yang masih tetap populer walaupun sudah 15 abad berselang. Figur yang punya nama besar dan punya pengikut hampir 2 milyar diseluruh dunia dari Maroko hingga Merauke. Michael Hart bahkan menempatkan sang tokoh ini sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang masa. 

Jadi, pasti ada yang tak beres dengan film itu. Entah karena  pembohongan publik atau manipulasi fakta sejarah sang tokoh. Sebab tidak mungkin jika filmnya beres alias tidak bermasalah akan menuai protes apalagi sampai berujung pada tindak kekerasan. Film yang beres pasti membuat penonton terhibur dan tidak akan gusar setelah usai menontonnya.
Saya pribadi sebenarnya heran dan tak habis fikir. Jaman sekarang masih saja ada orang yang suka memutarbalikkan fakta sejarah. Untungnya apa kira-kira. Untuk kepuasan pribadi atau melampiaskan kebencian. Padahal film itu tidak akan berpengaruh signifikan. Sebab kredibilitas seorang sutradara sama dengan seorang sejarahwan. Jika penulisnya memiliki track record buruk maka sebagus apapun materi sejarahnya tidak akan pernah dianggap kecuali sebagai sejarah yang cacat, demikian juga film dan sutradaranya.

0 komentar:

Posting Komentar