Pengaruh film memang luar biasa. Emosi manusia begitu mudah tersulut
gara-gara film. Apa yang disajikan sutradara melalui rangkaian adegan
dalam film mampu menjadi katalisator yang menghipnotis manusia untuk
bereaksi dengan timbulnya perasaan gelisah, frustasi, marah, atau bahkan
beringas.
Maka tak heran tidak sedikit kekerasan terjadi akibat pengaruh film.
Penembakan yang terjadi di Amerika setelah pemutaran perdana sekuel
Batman beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu bukti dahsyatnya
pengaruh film. Begitu juga dengan peristiwa kekerasan di Libya yang
menewaskan duta besar AS yang diduga terjadi akibat pengaruh Innocence
of Muslim. Sebuah film kontroversial yang menjadi perbincangan manusia
sejagat belakangan ini.
Lantas ada apa dengan Innocence of Muslim ini. Apakah karena ceritanya
yang bagus. Atau kah karena pemerannya yang ganteng melebihi Bratt Pit.
Jika karena alur cerita dan aktornya yang memikat tentu tidak akan
memantik protes yang berujung pada kekerasan. Film dengan kategori
demikian pasti menjadi box office yang menuai pujian dan dollar
melimpah. Jadi pasti bukan karena hal itu. Ini pasti karena ada sesuatu
dalam film itu.
Lho, ternyata lakonnya seorang tokoh yang masih tetap populer walaupun
sudah 15 abad berselang. Figur yang punya nama besar dan punya pengikut
hampir 2 milyar diseluruh dunia dari Maroko hingga Merauke. Michael Hart
bahkan menempatkan sang tokoh ini sebagai manusia paling berpengaruh
sepanjang masa.
Jadi, pasti ada yang tak beres dengan film itu. Entah karena pembohongan
publik atau manipulasi fakta sejarah sang tokoh. Sebab tidak mungkin
jika filmnya beres alias tidak bermasalah akan menuai protes apalagi
sampai berujung pada tindak kekerasan. Film yang beres pasti membuat
penonton terhibur dan tidak akan gusar setelah usai menontonnya.
Saya pribadi sebenarnya heran dan tak habis fikir. Jaman sekarang masih
saja ada orang yang suka memutarbalikkan fakta sejarah. Untungnya apa
kira-kira. Untuk kepuasan pribadi atau melampiaskan kebencian. Padahal
film itu tidak akan berpengaruh signifikan. Sebab kredibilitas seorang
sutradara sama dengan seorang sejarahwan. Jika penulisnya memiliki track
record buruk maka sebagus apapun materi sejarahnya tidak akan pernah
dianggap kecuali sebagai sejarah yang cacat, demikian juga film dan
sutradaranya.









0 komentar:
Posting Komentar